oleh

Menanti buah Cinta dan Sinergi PDI-P bagi Masyarakat Sulawesi Utara

Oleh : Adrian Yoro Naleng

Penulis Buku OD-SK Moving Forward

Sekretaris Eksekutif Lembaga Kajian Pemerintahan dan Strategi Pembangunan (LKPSP)

 

Cinta dan Sinergi adalah dua kata yang membayangi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Sulawesi Utara sejak kontestasi kekuasaan Pilkada 2020 sampai 2024 nanti. Sebab, tepat hari Minggu 13 Desember 2020 saat telah terkonfirmasi kemengan telak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dalam Pilkada serentak 9 Desember 2020 di Sulawesi Utara (Sulut), Ibu Megawati Soekarno Putri (Bu Mega) melalui Sekjen Hasto Kristianto, menitipkan salam hangat untuk warga Sulawesi Utara, lebih khusus pemilih PDI-P “Makase So bapilih, torang samua cinta Sulawesi Utara, Torang samua basudara”. Mendahului pesan Cinta Bu Mega, kata Sinergi telah menjadi kata sakti kandidat, Tim pemenangan atau bahkan pendukung PDI-P di berbaggai kabupaten/kota yang dipakai untuk meyakinkan pemilih bahwa kandidat dari PDI-P membawa harapan sinergitas politik antar level pemerintahan (Pusat-Provinsi-Kabupaten).

Kini pilkada telah usai, kontestan pemenang Gubernur-Wakil Gubernur, Bupati-Wakil Bupati serta Walikota-Wakil Walikota yang hampir seluruhnya dari PDI-P, sebagian telah dilantik. Karena itu kita bertanya bagaimana dengan pesan Cinta dan Sinergi PDI-P? Bagaimana kita memahami pesan cinta dan sinergi tersebut dalam narasi politik? Dan bagaimana cinta dan sinergi diwujudkan dalam relasi pemerintahan yang kompleks dan politis sehingga dapat menghasilkan buah yaitu kesejahteraan rakyat? Tulisan singkat ini berupaya mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang diawali dengan memaknai cinta dan sinergi dalam politik, kemudian mendiskusikan bagaimana sinergi dikonstruksi sebagai model tata kelola pemerintahan yang kompleks dan politis. Sehingga pada akhirnya kita bisa menagi buah dari pesan cinta dan sinergi yang ditebar untuk masyarakat Sulawesi Utara.

Cinta dan Sinergis: Perspektif Politik

Suara Cinta PDI-P yang sejuk melalui Bu Mega bagi warga Sulut tentu bukan cinta personal. Suara Cinta itu penting dimaknai dalam trajektori kontestasi kekuasaan. Sebab, kita seperti baru mengangkat kepala dari sungai kontestasi Pilkada langsung yang berisiko dan menakutkan. Dengan mata telanjang kita menyaksikan sampah-sampah perpecahan mengapung akibat perbedaan pilihan. Sinisme dan fitna begitu kental mengalir mengikuti alur kontestasi. Sebagian besar kekuatan jeraring sosial yang fundamen termasuk organisasi keagamaan juga ikut menanggung rembesan air kotor kontestasi. Bersamaan dengan itu, risiko kesehatan akibat Pilkada di masa pandemi Covid-19 mengintai semua pihak yang terlibat, yang efeknya sampai kini masih kita rasakan. Dalam trajektori kontestasi kekuasaan tersebut, pesan Cinta PDI-P menemukan relevansi yang sangat mendasar. Karya akademik Eleanor Wilkinson yang diberi judul On love as an (im)properly political concept, menjelaskan bahwa cinta dalam politik sangat dibutuhkan. Cinta telah diteorikan sebagai cara untuk membangun kembali komunitas yang terpecah, dan Cinta potensial untuk mengatasi perbedaan, sebab Cinta menentang kekerasan dan dominasi. Lebih jauh dalam buku Love and Politics, Eszter Kováts mengurai bahwa Cinta adalah perasaan komunal yang mendalam. Cinta dalam politik jauh dari “masalah pribadi” yang menyangkut dua orang yang sedang jatuh cinta. Cinta adalah tautan penghubung yang berharga bagi komunitas. Karena itu Cinta mendorong emansipasi dan transformasi pembangunan yang melibatkan dan untuk semua pihak.

Meskipun Cinta adalah kekuatan yang mengikat individu-individu yang berbeda dan terpecah menjadi sebuah gerakan kolektif yang lebih tangguh, kita perlu memikirkan ambivalensi pesan cinta PDI-P dalam politik yang dinamis, karena bagaimanapun cinta bisa menyenangkan tetapi juga bisa menyakitkan. Cinta dalam politik bisa bertahan lama tetapi juga bisa hanya sasaat, atau cinta dalam relasi pemerintahan yang multy level bisa ekspansif tetapi juga bisa berkontraksi. Maka untuk menjaga kehangatan pesan Cinta PDI-P, kata Sinergi yang sejak awal menjadi tool dalam marketing dan strategi politik, harus mampu “bermetamorfosis” sehingga dapat memfasilitasi komitmen PDI-P untuk terus berjuang bersama rakyat, dan mampu membersihkan suangai imajiner kontestasi kekuasaan, dan mengeringkan pakaian masyarakat yang basah oleh air kotor dari sungai imajiner itu.

Kata Sinergi adalah kata yang dipinjam dari bahasa Latin “synergia” yang menggabungkan dua akar kata yang diturunkan dari bahasa Yunani yaitu “syn-“ yang berarti “bersama”, dan “ergon” yang berarti “bekerja”. Kata Sinergi pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada abad ke-17, yang digunakan oleh para teolog untuk merujuk pada kerja sama antara kehendak manusia dan kasih karunia Allah. Tetapi baru pada akhir abad ke-20 Kata sinergi kemudian menjelma menjadi kata yang sangat terkenal di bidang pengembangan kepribadian dan organisasi. Stephen R. Covey adalah salah satu penulis yang mentransformasikan kata Sinergi melalui buku International best-seller-nya “The Seven Habits of Highly Effective People” dimana sinergi menurut Covey adalah salah satu ciri manusia efektif. Dalam literatur Ilmu politik kontemporer, kata sinergi muncul dan popular digunakan sebagai kritik terhadap sistem dan model pemerintahan hirarki tradisional diakhir abad ke-20. Model organisasi hirarki tradisional dianggap bermasalah dimana fitur-fitur yang dijadikan alat organisasi pemerintahan untuk bekerja lebih efektif, tidak dapat berfungsi secara maksimal karena over control dan dominasi. Pada saat bersamaan, pemerintahan hirarki tidak dapat menyelesaikan masalah yang kompleks di ruang publik, sehingga pemerintah membutuhkan berbagai pihak untuk bersinergi. Dari sinilah muncul apa yang disebut sebagai tata kelola (governance) yang dalam penerapannya biasa kita temukan menggunakan konsep kunci seperti Good Governance, New Public Management, Inter-governmental relations, Multy level governance dan self-steering atau non-self-steering atau tata kelola jaringan.

 

Metamorfosis Sinergi: Membangun Tata Kelola jaringan

Pemahaman Cinta dan Sinergi dalam ruang politik adalah sebuah interpretasi atas narasi. Dan sebuah narasi hanya dimaksudkan untuk menghidupkan akal dan menguji ide dalam wacana. Yang jauh lebih penting dari itu adalah komitmen moral untuk mewujudkan cinta melalui kerja sinergis sehingga rakyat menikmati buah cinta itu. Sebab bersinergi dalam ruang kekuasaan dengan berbagai aktor, melalui relasi politik dalam jaringan pemerintahan yang kompleks juga potensial mengakibatkan pemerintahan tidak lagi kuat sebagai sebuah sistem kekuasaan di level pemerintahan tertentu. Kita harus jujur, bahwa ruang kekuasaan yang sekarang dikendalikan oleh PDI-P di level pemerintahan Provinsi dan sebagian besar kabupaten/kota di Sulawesi Utara merupakan ruang yang bermanfaat secara ideologis sekaligus menggiurkan. Tetapi ada banyak contoh lain yang dapat disebutkan dimana kejahatan politik justru terjadi dalam ruang kekuasaan itu. Besarnya legitimasi kekuasaan untuk mengendalikan struktur birokrasi dan jaringan dalam relasi kekuasaan, seringkali dimanfaatkan untuk membajak kepentingan rakyat tanpa peduli pada kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Ruang itu juga sering digunakan untuk membangun kolusi merampok hak rakyat, tanpa peduli rakyat kesulitan mengakses kebutuhan dasarnya. Ruang itu juga dijadikan tempat oligarki berkumpul (para oligark dan elit) untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri dengan memangkas apa yang semestinya di dapatkan oleh rakyat dari proyek-proyek pemerintah. Dan dalam banyak kasus, kemiskinan, ketimpangan, kesenjangan dan layanan publik yang buruk di daerah justru disebabkan oleh pemimpin pemerintahan yang suka tebar pesona cinta dan vokal munyuarakan perjuangan bersama rakyat tetapi abai mengurus ruang kekuasaannya.

Saya menyebut contoh kegagalan pengelolaan ruang kekuasaan ini bukan supaya orang menjadi pesimis atau putus asa, tapi untuk mengingatkan kita semua bahwa untuk mencapai perubahan yang berarti, kita harus memulai dengan penilaian jujur tentang di mana keberadaan kita sekarang dan bagaimana komitmen moral pemimpin pemerintahan untuk membangun sinergi. Maka langkah PDI-P untuk melakukan metamorfosis Sinergi dari marketing politik menjadi tata kelola jaringan penting dilakukan. Sinergi dalam tata kelola jaringan pemerintahan adalah sebuah kemampuan leadership dan komitmen moral untuk membangun jaringan pemerintahan yang multi-level, menghidupkan relasi partisipatoris aktor publik, swasta, dan masyarakat, termasuk individu, kelompok, organisasi, dan organisasi politik dalam satu paket kebijakan. Jadi sinergi bukan saja sinergi vertikal antar level pemerintahan, tapi juga sinergi horisontal bersama elemen-elemen masyarakat.

Apakah ini hal yang Sulit diwujudkan? Tentu tidak. Studi evaluasi kualitatif yang Lembaga Kajian Pemerintahan dan Strategi Pembangunan (LKPSP) lakukan dalam satu periode pemerintahan Pak Olly Dondokambey dan Pak Steven Kandouw (ODSK) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur menjunjukan praktik tata kelola jaringan pemerintahan yang sangat baik. ODSK berhasil mensinergikan visi, kepentingan dan kekuasaan pemerintah pusat (yang dominan) dengan Provinsi dan Kabupaten Kota, mengarahkan partai politik, mengakomodasikan kepentingan swasta, menggerakan birokrasi untuk berinovasi, membangun gotong royong dengan tokoh agama dan masyarakat. Hasilnya, progesifitas ekonomi dan kemajuan diberbagai bidang dapat dinikmati masyarakat (Kami memberi catatan khusus saat Pandemi). Karena itu penting ditegaskan bahwa kunci keberhasilan membangun sinergi untuk mengelola jaringan pemerintahan terletak pada kredibilitas moral politik dan kapasitas leadership yang mampu mengintegrasikan kepentingan aktor dalam jaringan pemerintahan melalui paket kebijakan pemerintahan.

Oleh karena itu, sebagai tanda kepemimpinan yang terbangun dalam satu gerbong ideologis dan perjuangan maka pemimpin pemerintahan dari PDI-P di Kabupaten/Kota harus mampu membangun tata kelola jaringan sebagai jalan untuk bersinergi dan gotong royong sekaligus menunaikan tanggung jawab ideologis. Sebab dengan sinergi dan gotong-royong pemimpin akan menggerakkan elemen masyarakat untuk berjuang bersama dan mengawal kerja politik ideologis yang membumi untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya. Dari situlah kita akan menemukan bahwa Cinta dan Sinergi memiliki makna yang aktif, dinamis sekaligus ideologis bagi PDI-P. Cinta dan Sinergi buka kata-kata tanpa makna. Ia harus mewujud dalam tata kelola jaringan untuk menghasilkan kebijakan yang mensejahterakan masyarakat. Karena hanya dengan begitu, masyarakat akan memahami bahwa Cinta dan Sinergi PDI-P bukanlah jalan politik yang semata-mata hanya untuk meraih kekuasaan, tetapi Cinta dan Sinergi akan nyata dan bersatu dengan rakyat dalam bahasa kemanusiaan. Masyarakat Sulawesi Utara menanti buah cinta yang menyenangkan bukan yang menyakitkan, buah cinta yang bertahan lama bukan yang datang sesaat di musim Pemilu tiba.

News Feed