oleh

Babinpotmar Lanal Perbatasan Kembali Selamatkan Penyu Langka Dilindungi

LIPUTANMANADO.COM, TALAUD – Setelah menyelamatkan penyu belimbing/penyu raksasa (Dermochelys Coriacea) pada bulan Juni lalu, Babinpotmar Lanal Melonguane yang berada di Kampung Bahari Nusantara (KBN) desa Alo dan Alo Utara kali ini kembali menyelamatkan penyu belimbing muda, namun kali ini penyu belimbing tersebut belum berukuran besar/raksasa melainkan penyu belimbing muda.

Lewat releasenya pada Kamis, (16/09/2021) pihak Lanal Melonguane menjelaskan bahwa penyu belimbing muda yang terjaring nelayan saat menangkap ikan di laut nyaris dipotong dan dijadikan makanan oleh nelayan yang menangkap penyu itu. Beruntung hal tersebut dapat dicegah oleh Serda Pom Alfa Rizki Saputra selaku Babinpotmar yang ditugaskan di wilayah tersebut.

Kurangnya sosialisasi terkait peraturan perundang-undangan terkait perlindungan satwa langka tersebut disinyalir menjadikan masyarakat masih belum banyak yang mengetahui atau menyadari bahwa perbuatan tersebut merupakan pelanggaran hukum.

Dengan cara persuasif dan humanis, akhirnya penyu belimbing yang dibawa oleh nelayan tersebut kemudian diserahkan kepada Babinpotmar untuk kemudian langsung dilepas kembali ke laut.

Berkaitan dengan kejadian tersebut, Letkol Marinir Adi Sucipto,S.T.,M.Tr.Hanla selaku Komandan Lanal Melonguane memberikan apresiasi yang tinggi atas kesigapan Sang Babinpotmar untuk melakukan upaya perlindungan terhadap satwa laut langka yang dilindungi yang terancam punah tersebut.

Mengulangi imbauannya yang telah disampaikan pada bulan Juni lalu, melalui media ini Danlanal Melonguane kembali memberikan imbauan terkait upaya perlindungan terhadap satwa laut langka yang dilindungi tersebut.

“Perlindungan penyu belimbing di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dimana TNI AL diamanatkan menjadi penegak hukum terkait,” tegas Danlanal Melonguane.

Letkol Marinir Sucipto berharap tidak ada lagi kejadian atau kegiatan penangkapan satwa-satwa laut langka yang dilindungi, termasuk berbagai jenis penyu laut yang sudah terancam punah.

Ia juga mengharapkan suatu saat nanti satwa laut endemi Talaud yang memiliki pola migrasi sampai ke benua Amerika tersebut dapat mengangkat sektor pariwisata di Talaud dari sisi konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, sehingga satwa laut langka tersebut bukan hanya terhindar dari kepunahan namun juga dapat meningkatkan nilai tambah dari sisi ekonomi pariwisata di daerah.

Sanksi Hukum :

Pada pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2. Pada pasal 21 (2) UU Nomor 5, dijelaskan bahwa setiap orang dilarang untuk (a) menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (b) menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati; (c) mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di luar atau di dalam Indonesia; (d) memperniagakan, menyimpan, atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; serta (e) mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dilindungi, sedangkan pada padal 40 (2) dijelaskan bahwa barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 ini, penyu belimbing telah secara hukum terlindungi. Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa juga menjelaskan bahwa seluruh penyu termasuk penyu belimbing telah masuk ke dalam jenis biota yang dilindungi, sedangkan menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), semua penyu termasuk penyu belimbing telah masuk ke dalam appendix 1.

Hal ini berarti biota ini dilarang untuk diperdagangkan secara internasional, sedangkan menurut IUCN yang merupakan salah satu badan konservasi dunia, penyu belimbing telah masuk ke dalam golongan Critically Endangered (CR) atau sangat terancam punah. (*)

News Feed